[Novel] Forgetten Chapter I

By | April 7, 2020

Sihir sudah semestinya ada semenjak manusia mampu mengalashkan iblis. Kontrak antara malaikat dan makhluk yang kita sebut sebagai manusia menimbulkan suatu pertentangan yang mungkin akan menghancurkan dunia itu sendiri.

Dan jika mereka berhasil mereka akan di bayar dengan kekuatan sihir yang di dambakan oleh setiap orang.

Tidak semua manusia dapat mengalahkan iblis, hanyalah orang terpilih dan mempunyai tanda istimewa sejak lahir yang dapat mengalahkannya.

Pertumpahan darah tidak dapat dihentikan, korban dibiarkan membusuk di medan pertempuran. Demi satu ambisi mendapatkan satu hal yang dapat merubah takdir maupun dunia mereka sendiri. Akhirnya bendera di angkat setinggi mungkin, menandakan salah satu pihak telah menang.

Karena kemenangan manusia mereka mendapatkan sesuatu dan diturunkan kepada beberapa generasi sampai sekarang.

‘Api tidak akan muncul dengan sendirinya jika mereka tidak disulut oleh sebuah percikan.’

Kekacauan terjadi dimana-mana setelah monster dan beberapa orc menyerang pemukiman desa Goteo, banyak korban berjatuhan dan pertumpahan darah tak dapat terelakan. Ini dimulai beberapa jam lalu ketika warga desa sedang melakukan aktivitas sehari-harinya.

“Ini untuk keluargamu Macveel, kebetulan pamanku sedang memanen begitu banyak umbi- umbian dan sayuran di kebunnya.” Anak laki-laki dengan senyuman manisnya memberi sebuah wadah dari anyaman bambu.

“Bukankah ini terlalu banyak?” Tanya Macveel pada anak laki-laki tersebut.

“Tidak kok, ini bahkan lebih sedikit menurutku.” Tangan mereka tidak berhenti untuk memasukkan beberapa umbi-umbian dan sayuran yang tergeletak di tanah. Mereka berdua akan selalu berada di tempat yang sama, melakukan sesuatu dengan riang walaupun itu harus melepas peluh keringat dari tubuh.

“Terimakasih yah, aku akan kembali ke rumahku, ucapkan terimakasihku pada paman.” Mereka berpisah untuk sementara waktu lewat sebuah ayunan tangan yang tinggi dari keduanya. Anak lelaki tersebut masih saja tersenyum sampai sebuah senyuman menginterupsinya.

“Saudara? Baiklah.”

“Apa maksudnya paman?” Anak laki-laki tersebut mengerjapkan matanya berulang-ulang karena tidak mengerti apa yang dikatakan pamannya.

“Jangan bertanya maksudnya kau masih anak kecil.” Pamannya beranjak pergi ke dalam rumah dan memikirkan apa yang dilihatnya sejak tadi.

‘Apa benar dia tidak tau maksudku.’ Maksudnya adalah tersenyum panjang dan terus menerus memandang ‘saudaranya’ dengan lekat, apa ia tidak tau artinya?

Tanpa pikir panjang, ia menghilangkan pikirannya jauh-jauh karena ia harus fokus pada pekerjaan yang ia tekuni sekarang.

Tak lama dari itu ia melihat beberapa burung terbang menjauh dari sarangnya, hewan-hewan berlarian karena mereka terganggu oleh sesuatu yang pastinya berdampak buruk untuk mereka.

Firasatnya mengatakan akan terjadi hal yang buruk dalam beberapa menit ke depan. Ia bermaksud untuk ke bawah tanah rumahnya. Mengambil sembari memeriksa apakah barang itu masih ada disana. Sebuah peti kayu yang telah usang, penuh debu dan lumut. Jujur, ia belum pernah membukanya sejak hari itu. Patrick mendekat pada peti kayu tersebut, menganbil apa yang ada di dalamnya dan segera berlari ke atas.

Dentuman keras dari bawah tanah beserta bumi yang sedikit berguncang membuat para warga ketakutan, kepanikan dimana-mana. Desa yang tadinya tenang menjadi ramai oleh pijakan kaki yang berlalu lalang kesana kemari, panik salah satu lawan yang sulit untuk dilawan. Penduduk desa berusaha untuk mencari tempat dimana mereka dapat berlindung dengan aman.

BRAKKK

Tak lama kemudian pertanyaan warga desa terjawab oleh sekelompok orc yang merusak benteng desa Goteo. Hampir separuh benteng hancur dan hal itu membuat musuh mudah untuk masuk.

Batu-batu melayang di udara, banyak dari mereka merupakan pelempar ulung dari rasnya. Batu-batu terus berjatuhan dari langit seiring pijakan mereka yang seperti gempa bumi. Beberapa dari penduduk desa terjepit oleh batu yang dilemparkan.

“Mamah, ayo kita lari.” Seorang anak berumur 6 tahun berusaha mengangkat batu yang menimpa ibunya. Tergolek tak berdaya dengan beberapa darah yang mulai mengalir keluar. Air mata tak dapat terbendung kala ia melihat ibunya harus meninggal disini. Ia tidak mau
jika hal itu terjadi, sebuah ikatan yang harus terputus secara paksa bahkan tidak diinginkannya. Anak itu terus menangis sembari berusaha untuk mengangkat batu tersebut dari atas tubuh ibunya.

“Nak, pergilah. Kamu berjanji bukan akan menjadi seorang prajurit kerajaan? Buat mamah bangga.” Suara lirih dari ibunya ia dengarkan dengan hati-hati. Senyum hangat masih saja di ukir oleh ibunya. Tapi, itu yang membuatnya merasa bersalah.

“Mamah nggak akan meninggal, Neo nggak akan ninggalin mamah disini.” Anak itu terus mengusap air matanya yang terus merembas, ia tau usahanya tak akan berhasil. Walaupun begitu ia tidak mau meninggalkan ibunya disini.

“Kenapa kau masih disini? Kau bodoh hah?!!” seorang anak laki-laki dengan keringat yang mengucur di sekitar wajahnya. Tubuhnya terengah-engah karena terus berlarian untuk melindungi apa yang harus ia lindungi. Padahal dia telah diperingati oleh gurunya agar berdiam diri di rumah.

Keras kepala.

Ia tidak akan menuruti hal yang begitu aman baginya. Ia akan terus berusaha apa yang bisa ia lakukan di waktu itu juga. Meskipun itu berdampak pada dirinya sendiri.

“Louis. Itu namaku. Kau jangan berpikiran jahat tentangku, cepat atau kita akan segera dihancurkan oleh monster itu.” Ibu Neo mendongakkan kepalanya dan matanya melihat sebuah harapan di depannya.

“Louis? Louis Tudra? Tolong jaga anakku.” Ibu neo tersenyum dan sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang ada. Tubuhnya sudah hancur, ia tak bisa lagi menjadi beban anaknya. Di saat itu pula tangis semakin keras keluar dari mulut Neo. Louis yang melihatnya, hanya memalingkan kepalanya ke arah lain, berusaha kuat. Karena ia punya sesuatu yang harus ia kuatkan.

“Cepat bodoh!!” Louis menarik paksa Neo menjauh dari tempat itu. Mungkin ini adalah hal terakhir yang bisa ia lihat dari ibunya. Dari dalam hatinya louis tidak tega dengan pemandangan yang ia lihat, tapi bagaimana pun juga ia harus melindungi anak itu. Seharusnya ia tidak memaksa anak disampingnya untuk berlari sementara ibunya harus terkapar lemas di bawah batu besar. Tapi satu orang dapat membuat satu harapan baru untuk kedepannya.

Tunas baru yang akan berguna walaupun kau belum tau bagaimana takdirnya di masa depan. Itu yang di katakan gurunya pada Louis. Ia pun percaya bahwa tak akan ada lagi tempat dimana peperangan adalah hal lumrah dilakukan.

Ia percaya. —

Sementara dari sisi lain salah satu orc melihat Neo dan Louis yang berlarian dengan terengah- engah.

Louis yang menyadari ada Orc yang mendekat, terpaksa mengeluarkan pedang yang diberikan gurunya. Ia menebas orc tersebut dengan mudah. Sebenarnya ia tidak mau melakukannya. Maka dari itu, sejak tadi ia hanya menghindari orc-orc tersebut.

Sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas untuk melakukan hobi si pemiliknya. Louis melepas lega karena mereka sudah sampai disana, beberapa orang telah ia kumpulkan disini. Setidaknya rumah ini akan melindungi mereka di saat Orc mulai menyerang. Itu yang di katakan gurunya ketika hendak pergi.

Chapter selanjutnya akan diposting setiap minggunya pada hari sabtu.

karya : Gisma Galuh Finia Arifin

facebook

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments